MEMIMPIN ATAU DIPIMPIN

Oleh:

Mitra Erchandra, M.Pd.

Guru Bahasa Indonesia SMP Islam Al-Azhar Cairo Palembang

Siapa yang kita ingat ketika kita mendengar kata “pemimpin”? Secara umum, mungkin yang kita ingat Baginda Muhammad SAW, Muhammad Al-Fatih, Ir. Sukarno, Cut Nyak Dien, Ki Hajar, Jendral Sudirman, Raja Salman, Erdogan, atau bahkan Presiden Republik Indonesia. Jika ke konteks keluarga di rumah mungkin yang muncul Ayah kita, Ibu kita, kakak, atau suami kita. Di lingkungan pendidikan, mungkin salah seorang teman kita atau rekan kita. Mengapa mereka? Pastilah karena mereka adalah idola di pikiran kita. Kita cenderung meniru apa yang mereka lakukan dalam banyak hal. Kita patuhi apa yang mereka perintahkan atau anjurkan, baik secara langsung mapun tidak langsung. Semua kita lakukan karena kita yakin apa yang diperintahkan atau yang dianjurkan itu ”baik” buat kita.

Benarkah Kobe Bryant, Cristiano Ronaldo, Ayah, Suami  atau kakak kita dapat dianggap pemimpin buat kita, padahal mereka tidak memimpin satu lembaga apa pun? Mengapa tidak? Pemimpin adalah seorang yang mampu memengaruhi, mendorong, menggerakkan, mengarahkan, memberdayakan orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan tertentu. Jika mereka mampu memengaruhi kita melakukan sesuatu, berarti mereka adalah pemimpin bagi kita. Itu juga berarti kita bisa menjadi ’pemimpin’ bagi pemimpin formal kita sepanjang kita mampu mempengaruhi tindakan dan kebijakannya.

Secara normatif, seorang pemimpin formal harus memiliki setidaknya lima karakteristik. Pertama, ia harus memiliki kepribadian yang mantap, dewasa, kematangan emosi, keteladanan, bertanggungjawab, berani dan tangguh. Kedua, ia harus memiliki komitmen yang tinggi terhadap kemajuan dan pencapaian tujuan organisasi yang dipimpinnya. Ketiga, ia harus adaptif, akomodatif, cerdas dengan kemampuan berpikir konseptual strategis. Keempat, mampu mengabil keputusan cepat dan tepat, tidak mudah dipengaruhi. Dan kelima, ia harus komunikatif, mampu menyampaikan pikiran-pikiran, ide-ide, konsep strategis dan keputusannya.

Di samping lima karakteristik di atas, seorang pemimpin formal juga wajib memiliki setidaknya enam kompetensi. Pertama, kompetensi spiritual, ia harus orang yang religius, yang tahu persis mana yang hak, mana yang bathil, mana amar mana nahi berdasarkan norma-norma agama, sehingga ia tidak tumbuh menjadi mahluk super-omnifora, mahluk pemakan dan penghirup segala, termasuk ’daging, tulang dan darah’ orang-orang yang dipimpinnya.  Kedua, kompetensi intelektual, ia harus cerdas, memiliki wawasan luas, tidak ’berkacamata kuda’, ia memiliki kemampuan berfikir jernih, strategis, situasional, kondisional, pragmatik, visioner, futuristik dan holistik. Ketiga, kompetensi sosial, ia harus mampu mengenal dengan baik kelompok yang dipimpinnya, memahami potensinya, sehingga ia mampu memotivasi, menggerakkan, mengarahkan dan memberdayakannya dengan efektif dan efisien. Keempat, kompetensi psikologis, ia harus mampu membangun membakar dan mengobarkan semangat orang-orang yang dipimpinnya dalam meraih tujuan yang ingin dicapainya. Kelima, kompetensi manajerial, ia mampu membuat rencana, mengorganisasikan, melaksanakan, mengendalikan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan organisasinya. Keenam, kompetensi negosiatif, ia mampu melakukan perundingan, negosiasi, baik internal maupun eksternal untuk kemajuan organisasi yang dipimpinnya.

Sebagai pemimpin kita tentu harus meningkatkan semua kompetensi, salah satunya, yaitu kompetensi intelektual. Peningkatan kompetensi tentu harus dilakukan secara berkesinambungan. Prinsip ”Kaizen” atau Continuous Improvement Process, yang dalam salah satu Hadist berbunyi ”Barang siapa yang harinya (hari ini) lebih baik dari sebelumnya, maka ia telah beruntung, barang siapa harinya seperti sebelumnya, maka ia telah merugi, dan barang siapa harinya lebih jelek dari sebelumnya, maka ia tergolong orang-orang yang terazab.”  harus terus kita lakukan. Ada empat cara yang dapat kita tempuh yaitu melalui (1) penajaman dan kepekaan inderawi, (2) dialog dan diskusi (prinsip asah, asuh, asih), (3) ketajaman berpikir logis, dan (4) menelaah pendapat para ahli.

Penajaman indrawi melibatkan penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan. Pengindraan yang akurat akan mengirimkan pesan yang tepat ke otak kita, sehingga kita mampu memberikan respon yang benar. Kita harus berlatih membedakan fakta dan ilusi, memilah pesan dengan gangguan, membedakan irama dan ekspresi kepura-puraan  dengan ketulusan, memilah kehalusan dengan kekasaran, membedakan keluguan dengan kebodohan, dst.

Sebagai pemimpin, kita juga wajib terus melakukan dialog diskusi dengan diri sendiri, teman, guru, dengan tukang kayu dan mamang ojek, dengan anak ingusan, dengan Api, Laut, Matahari, Lebah, dan Induk Singa sekalipun. Semua adalah guru untuk kita. Lebah adalah guru yang mengajarkan kita untuk memakan makanan yang baik-baik dan halal saja, Matahari adalah guru yang mengajarkan bagaimana cara bersyukur, Singa adalah guru yang mengajarkan bagaimana kita harus bertanggungjawab kepada anak-anak kita. Belajarlah terus dari setiap orang, dari apa pun. Setelah pandai, jangan pelit untuk mengajarkannya kepada orang lain.

Pemimpin Sejati adalah  seorang yang senantiasa bisa menempatkan dirinya di manapun dia berada, selalu optimis, cerdas dalam bertindak, amanah dalam tugas, dan empati terhadap jironnya. Kemudian, berkomitmen untuk menggerakkan anggotanya secara terencana, terorganisir, dan sistematik untuk mewujudkan mimpinya sehingga nyata bagi kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya.

Semoga Sekolah Islam Al-Azhar Cairo Palembang dapat mencetak para pemimpin sejati. Insyallah.

Views All Time
Views All Time
53
Views Today
Views Today
1

Post comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2016 Sekolah Islam Al-Azhar Cairo Palembang

WhatsApp WhatsApp us